Friday, May 22, 2015

Vitamin F





Vitamin F......

 
Why do I have a variety of friends who are all so different in character?   How can I get along with them all?   I think that each one helps to bring out a "different" part of me.
 
With one of them I am polite.  With another, I joke.
I sit down and talk about serious matters with one.   With another I laugh a lot. I listen to one friend's problems.   Then I listen to another one's advice for me.
 
My friends are like pieces of a jigsaw puzzle.   When completed, they form a treasure box.   A treasure of friends!   They are my friends who understand me better than I understand myself.

They're friends who support me through good days and bad.  We all pray together and for each other.
 
Real Age doctors tell us that friends are good for our health.   Dr. Oz calls them Vitamin's F (for Friends) and counts the benefits of friends as essential to our well being.   Research shows that people in strong social circles have less risk of depression and terminal strokes.

If you enjoy Vitamins F constantly you can be up to 30 years younger than your real age.   The warmth of friendship stops stress and even in your most intense moments, it decreases the chance of a cardiac arrest or stroke by 50%.
 
I'm so happy that I have a stock of Vitamins F!
 
In summary, we should value our friends and keep in touch with them.   We should try to see the funny side of things and laugh together and pray for each other in the tough moments.
 
Thank you for being one of my Vitamins!

Thursday, May 14, 2015

Jgn angkuh dengan gelaran dan pangkat.

Assalaamu alaykum
Sekadar satu renungan.

Numan bin Tsabit atau yang biasa kita kenal dengan Abu Hanifah, atau popular disebut Imam Hanafi, pernah berselisih atau terserempak dengan anak kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu.

"Sang imam berkata, "Hati-hati nak dengan sepatu kayumu itu! Jangan sampai kau tergelincir."

Anak kecil ini pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.

"Bolehkah saya tahu namamu, tuan?", tanya si anak kecil.

"Nu'man namaku.", jawab sang imam.

"Jadi, tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelaran Al-Imam Al-A'dhom (Imam Agung) itu..?", tanya si anak kecil.

"Bukan aku yang memberi gelaran itu, masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi gelaran itu kepadaku."

"Wahai Imam, hati-hati dengan gelaran mu itu. Jangan sampai tuan tergelincir ke neraka kerana gelaran."

"Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkan aku di dunia. Tapi gelaran mu itu dapat menjerumuskan mu ke dalam api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya."

Ulama besar yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Abu Hanifah (Hanafi) bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang anak kecil.

Betapa banyak manusia tertipu kerana pangkat, jawatan, jabatan, tertipu kerana kedudukan dan tertipu kerana kemaqamannya. Jangan kita jadikan gelaran di dunia untuk keangkuhan.

Ya Karim!

Semoga kita menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab lagi.
 اِ نْشَآ ءَ اللّهُ 
آمِين آمِين آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Kisah Siak Masjid




Kisah Siak Masjid
Ada dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah seorang yg biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karier dan masa depan Zaenal.

Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dg infrastruktur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dg kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya. Sungguh indah mempesona.

Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager perusahaanya . . . Tapi tetap menjaga kesalehannya.

Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. jika masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. , dan bergegas masuk masjid yg ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperanjatlah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini berasal dari keluarga tak punya harta, tapi pintarnya mashaallah luarr biasa.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai tukang jaga atau siak di masjid..!

“Maaf,” “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”.
"iya"
Lalu berpelukan mereka. 
“hebat sekali Kamu ya zaenal… maShaallah…”. 
puji Ahmad saat melihat zaenal masih dlm keadaan memakai suit koprat. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam mewahnya terlihat .
“Ah, biasa saja…”.balas Zaenal

Zaenal merasa hiba. Ahmad dilihatnya sdg memegang kain lap. . seluarnya disentengkan, dan kopiahnya
ditarik ke belakang sehingga dahinya yg lebar  terlhat jelas.

“Mad… Ini kad nama saya…”.

Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener2 hebat."

“Mad, nanti habis saya shalat, kita sembang ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yg lebih baik dari sekedar siak di masjid ini. Maaf…”.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… . Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya.  ”.

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, tapi cuma kerja sbgai siak di masjid. Ya, meskipun tidak ada yg salah dg  pekerjaan sebagai siak , tapi siak… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan. 
, .

 Air wudhu membasahi wajahnya…

Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yg sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di pejabat, maka sebutannya bukan siak. Melainkan “office boy”.
Tanpa sadar, ada yg shalat di belakang Zaenal. Sama2 shalat sunnah agaknya. 
Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya. 
Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya.
 Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dg Ahmad.

“Encik,” tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.

“Iya dik..?”

 “Encik, sememangnya kenal dengan Haji Ahmad…?”

 “Haji Ahmad yang mana…?”

 “Itu, yg Encik bersembng tadi…”

 “Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. sudah haji dia?”

 “Dari dulu sudah haji encik. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”.

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…

Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat . Tawadhu’. Saya lah yg siak masjid ini yg sebenar. Saya pekerja beliau. Beliau yg bangun masjid ini di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. encik nampak mall megah di bawah sana? Juga hotel indah di seberangnya? … Itu semua milik beliau... Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”.
terdiam zaenal, entahlah apa yg ada di hati dan di pikiranya…

*****
Bagaimana menurut kita ?

Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin saat bertemu kawan lama yg sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yg sebenernya. 

Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita siak masjid,  maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yg membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Ia selamat dari rusaknya nilai amal, Tenang saja. . Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa2. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya...

MashaAllah

(Org yg ikhlas itu adl org yg menyembunyikan kebaikan2nya, spt ia menyembunyikan keburukan2nya)
-Tazkiyatun Nafs)

Thursday, May 07, 2015





Noor Afidah Abu Bakar
Parent Connect Consultancy

[PEDOFILIA: PERLUKAH KITA KISAH?]

Pedofilia adalah seorang dewasa atau remaja yang mempunyai kecenderungan dan keinginan seksual terhadap kanak-kanak. Pedofilia telah lama terlepas bebas di negara kita. 

Ingatkah lagi pembunuhan kejam adik Nurin Jazlin pada tahun 2007 dulu? Kegagalan pihak berkuasa menangkap pembunuh adik Nurin sejak 8 tahun lalu membuktikan bahawa sekurang-kurangnya seorang pedofilia tegar masih bebas. Pedofilia dalam kes ini memperolehi kepuasan dengan mendera anak kecil secara seksual dengan kejamnya. Pedofilia yang masih bebas itu mungkin pernah mendukung anak kecil kita yang dipuji comel, dia mungkin adalah ‘friend' Facebook kita, dia mungkin seorang 'jaga' di apartment kita, dia mungkin juga peniaga kantin sekolah anak kita dan dia sudah pastinya saudara mara salah seorang daripada kita. Pelbagai kemungkinan.

Dua hari lepas, kita digemparkan dengan berita tertangkapnya seorang pedofilia yang merupakan pelajar Malaysia di universiti terkemuka London. Pelajar ini menyimpan, menghasilkan dan mengedar gambar dan video pornografi kelas A yang hakikatnya adalah penderaan seksual kanak-kanak yang ekstrim. Berapa ramai lagikah mereka ini di Malaysia?

Pada awal tahun 2015, ibubapa di UK dikejutkan dengan penemuan website pedofilia berpengkalan di Rusia yang mengandungi 41 juta keping gambar kanak-kanak. Gambar-gambar tersebut disalin dari akaun media sosial milik peribadi/keluarga mangsa dan dimuatnaik ke website tersebut yang mempunyai beratus-ratus ribu pengunjung dari seluruh dunia. Petikan dari laporan, "Most of the images are accompanied by inappropriate comments from users across the world, which show they are being used for sexual gratification.”
Bayangkan jika gambar anak-anak kecil kita juga dimuatnaik ke situ.

Kebanyakan kanak-kanak yang menjadi mangsa pedofilia adalah yang belum baligh (prepubescent), lelaki dan perempuan. Di Malaysia, pada awal tahun ini, seorang bayi berusia 7 bulan dirogol suami pengasuh di Kepong. Ini bukanlah satu-satunya kes di Malaysia yang melibatkan bayi. Ada lagi yang telah dilaporkan. Beginilah betapa jahat dan sakitnya seorang pedofilia. Adakah kita tidak perlu kisah?

BAGAIMANAKAH IBUBAPA BOLEH MELINDUNGI ANAK-ANAK DARI PEDOFILIA?

1. Sentiasa ‘connect’ dengan anak-anak dan bina kepercayaan supaya kita menjadi tempat bercerita dan mengadu. 

2. Ingatkan anak-anak kecil untuk tidak menyimpan sebarang rahsia antara anak dan orang dewasa yang lain. Pedofilia selalunya memujuk anak untuk menyembunyikan perbuatan keji mereka. 

3. Hentikan sifat malu dan segan untuk bercakap soal seksual dengan anak-anak. Setiap hari anak-anak kita terdedah kepada unsur seksual di media, internet, iklan, sekolah dan paling menghampakan, di muka hadapan suratkhabar utama. Rancangan TV kanak-kanak dan siri kartun juga ada yang mengandungi unsur seksual dan menggunakan bahasa yang berunsul seksual. Kita mesti bersedia dan bersifat terbuka untuk mendidik anak-anak tentang isu seksual apabila perlu. Berbicaralah mengikut kesesuaian umur anak dengan bahasa yang difahami anak.

4. Sentiasa peka dengan gerak tubuh anak-anak yang mungkin mempamirkan sebarang ketidak-selesaan atau kegelisahan. Ambil tahulah.

5. Berhati-hati dengan paparan gambar dan video anak-anak di media sosial dan internet secara umumnya. Kenalkah kita siapa ‘friend’ dan ‘follower’ kita? Gambar-gambar anak kita mungkin di antara 41 juta gambar di website pedofilia yang disebut di atas. Sekarang ini mungkin ada pedofilia yang sedang berfantasi seksual melihat gambar anak-anak kita.

6. Ajar anak kecil tentang "appropriate and inappropriate touch". Pesan kepada anak-anak lelaki dan perempuan, bahawa tubuh-badan mereka adalah milik mereka dan tidak boleh disentuh oleh orang lain termasuklah saudara-mara terdekat ataupun mereka yang berada di rumah pengasuh/nurseri/tadika. 

7. Kenalpasti urusan-urusan yang membabitkan keadaan berisiko kepada anak-anak seperti membersihkan diri selepas ke tandas, bersalin pakaian, mandi dan sebagainya dan selalulah bertanyakan mereka dalam perbualan tentang siapakah yang terlibat. Contohnya, kalau tiba-tiba anak kecil bercerita bahawa pada hari ini anak penjaga yang membersihkan dirinya selepas ke tandas, atau ada orang mengambil gambar mereka mandi, anda perlu bertindak segera.

8. Ajar anak-anak teknik YELL RUN AND TELL (JERIT, LARI DAN CERITA) sekiranya mereka disentuh oleh sesiapa yang membuatkan mereka rasa tidak selesa seperti yang telah kita tunjukkan (di atas).

9. Jangan biarkan anak kecil ke tandas awam bersendirian. Iringilah anak dan tunggu sehingga anak selesai ‘berurusan’ di tandas. Kiranya kita perlu ke tandas dan anak kita berseorangan dengan kita, apa yang boleh dilakukan adalah mencari tandas awam yang mempunyai banyak unit tandas dan suruh anak kita masuk ke dalam sebuah unit tandas. Pesan kepada anak supaya terus berada di dalam unit tandas mereka yang berkunci, sehinggalah kita mengetuk dan memanggil. 

10. Pasanglah parental 'control software' dan perisian saringan di komputer yang digunakan oleh anak-anak. Bersembanglah dengan anak-anak tentang bahaya ‘chat' dengan sesiapa sahaja yang dikenali di internet. Pedofilia sentiasa mencari mangsa dengan merayau-rayau di internet. Mereka pandai memujuk dan bermanis kata. Mereka juga menggunakan identiti palsu supaya mudah dipercayai oleh kanak-kanak.

11. Adakan peraturan yang mewajibkan anak-anak menggunakan komputer hanya di ruang keluarga/umum di dalam rumah. Elakkan dari membenarkan anak-anak menyimpan dan menggunakan komputer di dalam bilik tidur mereka kerana sukar untuk dipantau. Ini membuka peluang untuk pedofilia ‘masuk jarum’ kerana mereka tahu anak kita tidak diawasi.

12. Elakkan memberikan telefon pintar dengan keupayaan ber’chat’ kepada anak-anak kecil.

13. Pastikan kita kenal siapa kawan-kawan rapat anak-anak kita, begitu juga guru-guru, jurulatih dan semua remaja dan orang dewasa yang terlibat dengan anak-anak kita.

14. Jangan biarkan anak kecil ke mana-mana berseorangan walaupun destinasi yang berdekatan seperti kedai, pasar malam dan sebagainya. Pedofilia mungkin telah lama memerhatikan rutin dan gerak geri anak kita. Mereka mungkin telah pun merancang sesuatu dan hanya menunggu masa untuk bertindak jahat.

15. Bekerjasama dengan pihak nurseri/pra sekolah/sekolah anak untuk melindungi anak-anak dari pedofilia.

BAGAIMANA PIHAK NURSERI/PRA-SEKOLAH/SEKOLAH BOLEH MELINDUNGI KANAK-KANAK DARI PEDOFILIA?

1. Tidak memaparkan gambar pelajar di akaun media sosial peribadi guru dan kakitangan. Yakinkah kita ‘friend’ guru-guru bukannya pedofilia? Jika ada ibubapa yg menjadi ‘friend' guru, biarlah hanya gambar anak ibubapa itu sahaja yang dipaparkan jika dibenarkan, bukannya seluruh kelas. 

2. Paparan gambar di website dan media sosial rasmi pihak sekolah perlu mendapat persetujuan (consent) ibubapa terlebih dahulu.

3. Mengawal pengambilan gambar dan video pelajar oleh guru dan kakitangan sekolah. Di sesetengah negara, guru tidak dibenarkan membawa kamera, malah telefon bimbit guru yang berkamera ditinggalkan di pejabat sepanjang waktu persekolahan untuk memastikan gambar dan video tidak dirakam sewenang-wenangnya bukan kerana urusan rasmi.

4. Banyak negara mempunyai sistem daftar-rujukan yang membolehkan sekolah dan organisasi yang terlibat dengan kanak-kanak memeriksa latar belakang mereka yang bekerja dengan kanak-kanak. Sistem ini diwujudkan untuk melindungi kanak-kanak.

5. Memantau kiranya ada kakitangan yang gemar berseloroh dengan unsur yang tidak appropriate/lucah. Ini adalah salah satu indikasi gangguan jiwa.

6. Memastikan pintu kelas mempunyai bahagian berkaca untuk melihat ke dalam kelas.

7. Tiada urusan di lakukan antara guru dan kanak-kanak di dalam bilik yang tertutup. Pintu mesti sentiasa dibuka.

8. ‘Educate' guru, ibubapa dan pelajar tentang pedofilia bagi menunjukkan keseriusan masalah tersebut.

Prihatinlah wahai ibubapa, guru-guru dan penggubal polisi. Ambil tahulah. 
Sejauh mana sesuatu masyarakat itu melindungi keselamatan anak-anak melalui kesedaran, polisi dan undang-undang, membuktikan sejauh mana masyarakat tersebut menghargai kanak-kanak.